mUSLIM BABY NAMES | NAMA ISLAM BAYI

Hukum dan Manfaat Khitan

Menurut bahasa khitan berarti memotong kulit kepala dari dzakar atau penis pada laki-laki. Khitan adalah salah satu keutamaan dien yang disyariatkan Allah Swt untuk hamba-Nya sebagai pelengkap fitrah yang diberikan kepada mereka.

Pengkhianatan bagi para pengikut Millah Nabi Ibrahim As setingkat dengan salah satu hukum seperti pembabtisan bagi para penyembah salib (kaum Krieten).

Barang siapa diantara kaum muslimin yang tidak melakukan khitan sebelum aqil baligh (dewasa) maka oleh sementara dia dinyatakan sebagai kafir.


Khitannya Al-Khalil (Nabi Ibrahim As)

Nabi Ibrahim As berkhitan pada usia 80 tahun. Beliau mengkhitan Nabi Ismail As pada usia 13 tahun, dan mengkhitan Nabi Ishaq As pada usia 7 tahun. Khitan merupakan salah satu keutamaan yang diujikan Allah Swt kepada khalilnya – Nabi Ibrahim As – yang kemudian dilaksanakan dengan baik oleh beliau, oleh karena itu layaklah bila beliau mendapat julukan Imam Umat Manusia. Konon, beliau adalah manusia pertama yang melakukan khitan.

Kemudian sunahnya itu diikuti oleh para nabi dan rasul setelahnya, termasuk Al Masih Isa bin Maryam As. Diundangkannya Hukum Khitan Sabda Rasulullah Saw :“Fitrah itu ada lima, khitan, mempertajam pisau penyembelihan, mencukur kumis, menggunting kuku, dan mencabut bulu ketiak”. Rasulullah saw. Meletakkan khitan sebagai puncak perilaku fitrah, yang dimaksud dengan fitrah di sini adalah fitrah yang mensucikan badan.

Sedangkan fitrah kalbu adalah mengenal Allah swt dan mencintai-Nya. Selama ini para ulama masih berbeda pendapat tentng hukum pengkhitannan bagi laki-laki dan wanita, dan banyak ditampilkan tafsir terhadap maksud haits yang berbunyi:“Khitan adalah sunah hukumnya bagi laki-laki dan kemuliaan bagi wanita”. (Hadits dhaif). Namun hampir semua ulama sepakat bahwa khitan adalah wajib hukumnya bagi laki-laki dan wanita para ahli fiqih memandangnya sebagai terpuji, tidak wajib.

Belum pernah Rasulullah saw. Memerintahkan seseorang mengkhitan anak wanitanya, kecuali dalam hadits dhaif yang ditulis di atas. Memilih waktu khitan Para fuqaha berbeda pendapat dalam menentukan waktu yang tepat untuk mengadakan khitan. Namun semuanya hanya berkisar dalam soal penetapan waktu saja dan tidak menyangkal suatu waktu tertentu. Memang ada sementara dari mereka memakruhkan dilaksanakan pengkhitanan pada hari ketujuh (sabtu) untuk membedakan dengan hari kaum Yahudi. Di antara ulama yang memakruhkan adalah Hasan al-Bashri dan Malik bin Anas.

Ilmu kedokteran modern menyatakan bahwa waktu yang paling tepat untuk dilakukan pengkhitanan adalah seketika bayi tersebut dilahirkan. Dengan demikian sang dokter yang membantu persalinan ibunya dapat langsung mengadakan pengkhitanan. Sehingga pada waktu sang ibu keluar dari rumah sakit maka si bayi sudah benar-benar sembuh dari khitannya.

Akan tetapi penghitanan bayi itu tidak boleh dilakukan setelah si bayi berumur 24 jam pertama setelah dilhirkan kecuali setelah beberapa minggu. Hal diatas berkaitan dengan aliran darah si bayi. Setelah bayi berumur beberapa minggu maka baru boleh dilakukan pengkhitanan dan sebaiknya dilakukan pada pagi hari. Jika sanga bayi telah berumur tiga sampai enam bulan sebaiknya dilakukan pembiusan telebih dahulu sebelum dilakukan pengkhitanan untuk mengurangi rasa sakit.

Ada lagi ahli fikih yang berpendapat bahwa pengkhitanan itu tidak boleh dilakukan sebelum anak mencapai usia aqil baligh (dewasa) dengan alasan mereka—sebelum baligh—belum wajib menunaikan suatu ibadah yang berkaitan dengan jasmani.

Sudah berang tentu pendapat yang terakhir ini bertentangan dengan hasil penelitian medis. Kini sudah dapt dibuktikan secara ilmiah bahwa khitan banyak melindungi orang dari berbagai penyakit yang bersarang di balik kulit kepala dzakar atau penis laki-laki, di antaranya penyait kanker.

 

Tagged as: ,

Leave a Response